Patungan Yuk! :)

“Wahai orang-orang yang beriman! Infaqkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafa’at.” (QS. Al Baqarah : 254)

Perjuangan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh dan selamat siang 🙂

Bagaimana siang hari kamis teman-teman semua?

Semoga selalu semangat sampai malam nanti ya 🙂

Masih di edisi berbagi kisah motivasi untuk teman-teman semua.

Cerita kali ini datang dari salah seorang marketing Al Warist Property juga.

Baca juga kisah motivasi sebelumnya di sini.

Yuk langsung baca ceritanya! 🙂

Ini kisah nyata tentang seorang marketing Al Warist Property. Sebelum saya menjadi seorang marketing di Al Warist, saya hanyalah orang dari kalangan biasa saja. Pendidikan terakhir saya hanya sampai Sekolah Dasar (SD). Saya tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dikarenakan tidak memiliki biaya. Padahal saya sangat ingin melanjutkan pendidikan saya.

Setelah lulus SD, saat itu saya belum memiliki pekerjaan. Aktivitas saya sehari-hari hanyalah menjual sayur bersama nenek saya. Mulai pukul 05.00 pagi, saya sudah turun untuk berjualan bersama nenek. Itu pun tanpa menggunakan kendaraan.

Setiap hari, uang yang kami dapatkan paling banyak adalah 20-30 ribu rupiah/hari.

Hidup saya tidak semewah teman-teman saya, karena kedua orangtua saya sudah meninggal sejak saya kecil.

Ketika menginjak usia 16 tahun, saya diajak teman bekerja di sebuah cafe. Saat itu, saya merasa sangat bahagia dan akhirnya saya pun bekerja di cafe tersebut. 3 bulan bekerja, saya mendapat musibah. Saya terkena penyakit maag, paru-paru basah, tifus, dan malaria. Akibat saya terlalu lelah dan kurang istirahat. Sehingga saya terpaksa harus berhenti bekerja.

Satu tahun kemudian, saya mendapat tawaran kerja di Wardana, sebuah warung kopi sederhana. Saya menjadi sangat dekat dengan pemilik warkop tersebut. Sehingga saya pun memberanikan diri untuk menyampaikan ide-ide saya agar warung kopi itu bisa mendapatkan ramai pengunjung. Selang 8 bulan berlalu, warkop tersebut mengalami penurunan, sehingga penghasilannya menjadi sedikit. Saya pun berhenti dan kembali menganggur.

2 tahun kemudian,warung kopi tersebut bekerjasama dengan sebuah perusahaan properti, yaitu Al Warist Property, dan saya diperkenalkan dengan direkturnya (Aja Warista). Sehingga saya dapat menjalin hubungan baik dengan beliau.

Saat itu, saya mendapat masalah di rumah, sehingga saya pergi dari rumah dan saya tinggal bersama direktur Al Warist. Saya banyak diberi ilmu oleh beliau (Aja Warista) dan saya mendapat didikan yang sangat baik. Akhirnya, saya pun diajak oleh Pak Aja untuk bergabung ke dalam Al Warist Property. Selama 3 bulan saya berusaha untuk menjual tamah kavling. Dan alhamdulillah berkat usaha, do’a, dan bimbingan dari Pak Aja, saya berhasil menjual 14 tanah kavling sekaligus. Berawal dari postingan saya di facebook, ada seorang pengusaha asal Singkawang yang tinggal di Jakarta mengirimi saya pesan di messenger facebook. Beliau berminat dengan tanah kavling yang saya tawarkan. Beliau lalu menyuruh adiknya yang tinggal di Singkawang untuk cek lokasi dan setelah itu ternyata beliau jadi membeli tanah tersebut sebanyak 14 kavling sekaligus.

Saya merasa sangat bersyukur. Meskipun saya hanya lulusan SD, tapi saya bisa bergabung dengan Al Warist Property dan berhasil menjual 14 kavling.

Di bawah ini foto dokumentasi saat akad sinergi:

Manusia hebat lahir dari kesulitan dan kesakitan yang dia alami.

Sulit sementara karena berjuang atau sulit selamanya karena tidak mau berusaha.

Sejarah selalu diukir oleh generasi pemenang.

– Erwin –

Fb: Erwin Alwarist Property

Bagaimana? Kisah sebuah perjuangan yang sangat mengharukan, bukan?

Semoga kisah di atas dapat menjadi penyemangat bagi kita semua. Apapun perkerjaan kita dan apapun latar belakang kita.

Terima kasih telah membaca tulisan ini sampai selesai dan sampai bertemu lagi di tulisan selanjutnya 🙂

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh 🙂

Makna Sebuah Pekerjaan

Seorang eksekutif muda sedang beristirahat siang di sebuah kafe terbuka. Sambil sibuk mengetik di laptopnya, saat itu seorang gadis kecil yang membawa beberapa tangkai bunga menghampirinya.

”Om beli bunga Om.”

”Tidak Dik, saya tidak butuh,” ujar eksekutif muda itu tetap sibuk dengan laptopnya.

”Satu saja Om, kan bunganya bisa untuk kekasih atau istri Om,” rayu si gadis kecil.

Setengah kesal dengan nada tinggi karena merasa terganggu keasikannya si pemuda berkata, ”Adik kecil tidak melihat Om sedang sibuk? Kapan-kapan ya kalo Om butuh Om akan beli bunga dari kamu.”

Mendengar ucapan si pemuda, gadis kecil itu pun kemudian beralih ke orang-orang yang lalu lalang di sekitar kafe itu. Setelah menyelesaikan istirahat siangnya,si pemuda segera beranjak dari kafe itu. Saat berjalan keluar ia berjumpa lagi dengan si gadis kecil penjual bunga yang kembali mendekatinya. ”Sudah selesai kerja Om, sekarang beli bunga ini dong Om, murah kok satu tangkai saja.”

Bercampur antara jengkel dan kasihan sipemuda mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya. “Ini uang 2000 rupiah buat kamu. Om tidak mau bunganya, anggap saja ini sedekah untuk kamu,” ujar si pemuda sambil mengangsurkan uangnya kepada si gadis kecil.

Uang itu diambilnya, tetapi bukan untuk disimpan, melainkan ia berikan kepada pengemis tua yang kebetulan lewat di sekitar sana. Pemuda itu keheranan dan sedikit tersinggung.

”Kenapa uang tadi tidak kamu ambil, malah kamu berikan kepada pengemis?”

Dengan keluguannya si gadis kecil menjawab, ”Maaf Om, saya sudah berjanji dengan ibu saya bahwa saya harus menjual bunga-bunga ini dan bukan mendapatkan uang dari meminta-minta.

Ibu saya selalu berpesan walaupun tidak punya uang kita tidak bolah menjadi pengemis.”

Pemuda itu tertegun, betapa ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak kecil bahwa kerja adalah sebuah kehormatan, meski hasil tidak seberapa tetapi keringat yang menetes dari hasil kerja keras adalah sebuah kebanggaan. Si pemuda itu pun akhirnya mengeluarkan dompetnya dan membeli semua bunga-bunga itu, bukan karena kasihan, tapi karena semangat kerja dan keyakinan si anak kecil yang memberinya pelajaran berharga hari itu.

Tidak jarang kita menghargai pekerjaan sebatas pada uang atau upah yang diterima. Kerja akan bernilai lebih jika itu menjadi kebanggaan bagi kita. Sekecil apapun peran dalam sebuah pekerjaan, jika kita kerjakan dengan sungguh-sungguh akan memberi nilai kepada manusia itu sendiri. Dengan begitu, setiap tetes keringat yang mengucur akan menjadi sebuah kehormatan yang pantas kita perjuangkan.

Source: https://iphincow.com/2012/09/12/makna-sebuah-pekerjaan/